"Kita harus bergandengan tangan, pembangunan ini bersifat futuristik, namun tetap realistik. Sejarah masa lalu menjadi 'kaca benggala' agar pembangunan pedestrian ini berkelanjutan dan benar-benar bermanfaat bagi masyarakat," tandas Sekretaris DPUPR, Eko Budi Prayitno.
"Sistem drainase harus tertata sempurna. Jangan sampai air hujan deras meluap ke jalan, karena daerah resapan hilang. Hal ini sangat krusial agar tidak menimbulkan banjir kiriman ke daerah yang lebih rendah, khususnya wilayah Kelurahan Kowangan," ungkap Entargo, perwakilan Ketua RW Kelurahan Kowangan.
"Jaminan keselamatan bagi anak-anak melalui pemasangan marka kejut (polisi tidur) di depan Poli Pancasila/Panti Asuhan Pangrekso Ndalem Betlehem, serta akses masuk SD Pangudi Utami sangat perlu. Jangan sampai trotoar yang sudah bagus dirusak permanen oleh galian atau saluran limbah yang tidak segera dikembalikan kondisinya secara sempurna," tutur Setyo Sumaryanto, delegasi dari RW 03 Mardisari-Kertosari, di hadapan perwakilan PDAM, PLN, dan Telkom yang turut hadir.
Hadirnya Forum Disabilitas, Komunitas Runner, Sepeda, Mural, dan Pegiat Sejarah dalam FGD ini melengkapi visi Citywalk sebagai ruang publik yang inklusif, ramah olahraga, dan tetap menjaga nilai historis bangunan tua di sepanjang koridor pusat Kota Temanggung. (Sty;Ekp)
S
Smart Government (Pemerintah Cerdas)
Smart City Temanggung
DPUPR